Perlindungan habitat spesies maleo yang berada di kawasan apl (area penggunaan lain), tepatnya di Desa Pakuli Utara, terus dilakukan. Hal itu dijelaskan saat sosialisasi program Sanctuary Maleo dan Pemeliharaan Habitat Maleo pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Balai Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Azir, Ketua LPKD “Singgani” Pakuli Utara, mengatakan dalam kurun waktu 2023 sampai 2025, jumlah burung Maleo yang dilepas liarkan berjumlah 533 ekor.
Harapannya, perjumpaan antara Maleo dengan Manusia semakin sering kedepannya. Telur Maleo semakin banyak ditemukan dan kemudian dilepasliarkan kembali.
“Ketika berbicara tentang Pakuli, khususnya Pakuli Utara, maka orang langsung mengingat Maleo.
Begitu pun sebaliknya. Ketika berbicara tentang Maleo, maka orang langsung mengingat Pakuli Utara.” Ucapnya saat memberi penjelasan tentang program.
Dia melanjutkan, proses ini tidak mudah, tapi bisa dilakukan dengan kerja-kerja kolaborasi. Kawasan hutan terjaga, habitat terjaga, Maleo lestari, masyarakat menjadi sejahtera.
Di sisi lain, akses dari Kota Palu yang dekat, yang hanya 50 menit perjalanan darat menuju arah selatan. Ditambah lagi akses dari jalan desa ke lokasi juga dekat dan mudah diakses adalah salah satu keuntungan bagi desa.
Program ini dilaksanakan oleh LPKD Singgani Pakuli Utara dan merupakan bagian dari program Nature’s Heartbeat melalui dukungan IUCN dan NTFP-EP Indonesia.
Dalam proses pelaksanaannya, LPKD Singgani didampingi oleh Perkumpulan IMUNITAS.









Diskusi tentang post