• Beranda
  • Kegiatan
    • Disaster Management
    • Community Development
    • Forest Management
  • Tentang
    • Visi dan Misi
    • Profil
    • Staff
  • Kabar Imun
    • Galeri
    • Siaran Pers
  • Pengalaman Organisasi
Selasa, 3 November 2026
  • Masuk
Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah
  • Beranda
  • Kegiatan
    • Disaster Management
    • Community Development
    • Forest Management
  • Tentang
    • Visi dan Misi
    • Profil
    • Staff
  • Kabar Imun
    • Galeri
    • Siaran Pers
  • Pengalaman Organisasi
Tiada hasil
Lihat semua
Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah
  • Beranda
  • Kegiatan
    • Disaster Management
    • Community Development
    • Forest Management
  • Tentang
    • Visi dan Misi
    • Profil
    • Staff
  • Kabar Imun
    • Galeri
    • Siaran Pers
  • Pengalaman Organisasi
Tiada hasil
Lihat semua
Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah
Tiada hasil
Lihat semua

Warisan Tomus Lage untuk Anaknya di Tanah Enclave Lore Lindu

Admin Imunitas Oleh Admin Imunitas
2 November 2026
pada Forest Management
0

Sore itu, Tomus Bangko Lage, 63 tahun, mengajak saya yang baru saja tiba dari Kota Palu untuk duduk di halaman rumahnya, di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso. Angin sore itu bertiup sedikit kencang, membuat dedaunan pohon berjatuhan. Nosel, anaknya yang berusia 25 tahun, menyuguhkan kopi hitam panas dan ikut duduk menemani.

Samping kiri-kanan rumah Tomus Bangko Lage begitu rindang dengan pohon-pohon. Membuat suasana semakin sejuk.

Saya memperhatikan pohon-pohon itu. Terdapat pohon bayur (Pterospermum javanicum), cempaka (Magnolia ovalis), dan damar (Agathis dammara). Ternyata, pohon-pohon itu ditanam oleh Tomus Bangko Lage saat Nosel masih duduk di sekolah dasar.

“Saya punya anak ini nanti akan berkeluarga. Dia akan membangun rumahnya sendiri. Itu butuh kayu. Sementara kita tahu, kayu yang ada di sini itu tidak semua punya kita, ada yang punya negara.” Ucap Tomus Bangko Lage yang di desanya, lebih akrab disapa Papa Gito.

“Bisa-bisa nanti saya punya anak dipenjara”. Lanjutnya

Hal itu karena semakin kurang pohon-pohon besar yang bisa ditemukan di Desa Doda.

Desa Doda merupakan salah satu dari total 76 desa enclave dan penyangga Taman Nasional Lore Lindu. Pada 2025, BPS menyebutkan jumlah penduduknya 1.040 jiwa. Laki-laki 548 jiwa sementara Perempuan 492 jiwa.

Menyadari bahwa pertumbuhan jumlah penduduk ikut meningkatkan kebutuhan material kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan, di sisi lain, ekspansi pertanian ke kawasan konservasi sangat terbatas, Papa Gito mulai menanam berbagai jenis pohon di pekarangan rumahnya dan juga di kebunnya.

Pohon-pohon itu diproyeksikan untuk pemenuhan kebutuhan keluarganya di masa mendatang, tanpa harus bergantung pada kayu yang bersumber dari dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

“Dulu, banyak yang menertawakan saya waktu saya mulai menanam pohon-pohon itu di kebun,” lanjut Papa Gito sambil tertawa kecil. “Jadi, nanti, Nosel tidak perlu jauh-jauh kalau mau ambil kayu untuk kebutuhannya. Dan tidak perlu takut dengan Taman Nasional,” ucap Papa Gito.

Papa Gito seolah menunjukkan bahwa sebatang pohon bisa menjadi warisan bagi anak cucunya kelak. Sekaligus menjadi salah satu cara menjaga Lore Lindu. Kini warga mulai mengikuti jejak Papa Gito, menanam pohon yang diproyeksikan untuk kebutuhan di masa mendatang di pekarangan sekitar rumah. Agar nanti tidak perlu menebang hutan.

Thomus B. Lage Melihat pohon yang berada di lahan pekarangan sekitar rumahnya

Enclave Lembah Behoa

Terdapat 5 desa dari total 8 desa di Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, yang masuk di dalam enclave TNLL, yaitu Desa Doda, Bariri, Hanggira, Lempe dan Desa Baleura. Jumlah penduduk yang bermukim di 5 desa enclave berdasarkan data BPS Kabupaten Poso tahun 2024 sebanyak 3.482 jiwa. Mata pencaharian utama adalah sebagai petani (lahan basah) dan pekebun, dengan ketergantungan tinggi pada lahan.

Hal itu berpotensi memicu deforestasi, degradasi ekosistem, konflik satwa-manusia, hingga ancaman terhadap situs megalitik yang menjadi warisan budaya dunia.

Bukan rahasia lagi bahwa di banyak tempat di Indonesia, konservasi dan pembangunan ekonomi sering berada pada dua kutub yang berlawanan. Perlindungan kawasan hutan dipersepsikan membatasi ruang hidup masyarakat, sementara aktivitas ekonomi masyarakat dianggap sebagai ancaman bagi kelestarian lingkungan.

Namun, pengalaman di Lembah Behoa menunjukkan bahwa hubungan keduanya tidak selalu harus dipahami dalam kerangka konflik. Selama lebih dari tiga dekade sejak Taman Nasional Lore Lindu ditetapkan pada tahun 1993, bentang hutan yang mengelilingi lembah relatif tetap terjaga.

Pengalaman Behoa mengingatkan bahwa keberhasilan konservasi tidak selalu lahir dari pendekatan yang memisahkan manusia dari alam. Justru ketika masyarakat memperoleh ruang untuk membangun penghidupan yang layak sekaligus terlibat dalam menjaga bentang alamnya, konservasi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Massiri, Nugroho, dan Soekmadi dalam penelitian tahun 2017 di Taman Nasional Lore Lindu memperlihatkan bahwa kapasitas kelembagaan masyarakat lokal berhubungan erat dengan keberhasilan kemitraan konservasi. Pengalaman Behoa menunjukkan bahwa relasi tersebut bukan sekadar konsep, melainkan praktik yang telah berlangsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Lembah Behoa belum tentu menjadi model yang dapat diterapkan begitu saja di semua tempat. Namun pengalaman yang berkembang di wilayah ini menawarkan pelajaran penting. Konservasi tidak harus dipahami sebagai lawan dari pembangunan ekonomi, sebagaimana pembangunan ekonomi tidak selalu identik dengan degradasi lingkungan.

Di tengah berbagai tantangan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, masyarakat di Behoa menunjukkan bahwa keduanya dapat bergerak beriringan. Hutan tetap berdiri, satwa masih bertahan, sawah tetap menghasilkan pangan, dan masyarakat terus membangun masa depan mereka.

Namun, tantangan lain juga datang dari akses transportasi yang selama beberapa tahun terakhir makin berkembang. Jalan penghubung Doda–Lelio telah dibangun oleh Pemerintah Daerah Poso, yang mempermudah akses masyarakat dari dan menuju desa-desa di Lembah Bada, serta membuka mobilitas barang dan aktivitas ekonomi.

Kekhawatiran akan banyaknya pendatang setelah akses jalan membaik tentu menjadi persoalan serius, terutama pembukaan lahan yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Namun, menurut Papa Gito, selama masyarakat Doda taat pada aturan adat, kekhawatiran itu bisa dihindari. “Keyakinan kita bahwa sepanjang aturan adat tetap dijalankan dan masyarakat taat pada aturan tersebut, itu berdampak baik bagi lingkungan dan masyarakat,” ucapnya.

Label: 1000 megalithenclavekonservasilembah behoalore lindu
Admin Imunitas

Admin Imunitas

Terkait Berita

Program Kemitraan Wallacea III Dimulai, Hutan Desa Sigi Didorong Jadi Penggerak Ekonomi
Community Development

Program Kemitraan Wallacea III Dimulai, Hutan Desa Sigi Didorong Jadi Penggerak Ekonomi

13 Oktober 2026
Warga Pakuli Utara Menjaga Maleo: Dari Kepedulian Menjadi Gerakan Konservasi
Community Development

Warga Pakuli Utara Menjaga Maleo: Dari Kepedulian Menjadi Gerakan Konservasi

9 Agustus 2026
Menyadap Nira, Merawat Hutan
Forest Management

Menyadap Nira, Merawat Hutan

13 Juli 2026
Nature Heartbeat: Menjaga Detak Jantung Alam dari Lembah Besoa
Community Development

Nature Heartbeat: Menjaga Detak Jantung Alam dari Lembah Besoa

10 Juli 2026
Upaya Perlindungan Habitat Maleo Terus Dilakukan
Community Development

Upaya Perlindungan Habitat Maleo Terus Dilakukan

14 Juni 2026
Web Database Rotan Wallacea Resmi Dikenalkan ke Publik
Community Development

Web Database Rotan Wallacea Resmi Dikenalkan ke Publik

22 Mei 2024
Muat lagi

Diskusi tentang post

By Categories

  • Agenda
  • Community Development
  • Disaster Management
  • Forest Management
  • Galeri
  • Kegiatan
  • Opini
  • Pengalaman
  • Publikasi
  • Siaran Pers
  • Uncategorized

TENTANG

Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah

Ikuti Media Sosial Imunitas

Jl. Tanggul Selatan, Lorong Idaman No 2, Kelurahan Petobo, Kecamatan  Palu Selatan

Kota Palu-94232- Sulawesi Tengah

Email :

imunitas2012@gmail.com

  • About
  • Help
  • Feedback
  • Contact

© 2021 IMUNITAS - Perkumpulan Inovasi Komunitas Sulawesi Tengah

Tiada hasil
Lihat semua
  • Beranda
  • Kegiatan
    • Disaster Management
    • Community Development
    • Forest Management
  • Tentang
    • Visi dan Misi
    • Profil
    • Staff
  • Kabar Imun
    • Galeri
    • Siaran Pers
  • Pengalaman Organisasi
  • Masuk

© 2021 IMUNITAS - Perkumpulan Inovasi Komunitas Sulawesi Tengah

Selamat datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Lupa kata sandi?

Buat Akun baru!

Isi form untuk mendaftar...

Semua bidang yang wajib. Masuk

Ambil kata sandi Anda

Masukkan nama atau email untuk mereset kata sandi Anda.

Masuk