• Beranda
  • Kegiatan
    • Disaster Management
    • Community Development
    • Forest Management
  • Tentang
    • Visi dan Misi
    • Profil
    • Staff
  • Kabar Imun
    • Galeri
    • Siaran Pers
  • Pengalaman Organisasi
Minggu, 9 Agustus 2026
  • Masuk
Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah
  • Beranda
  • Kegiatan
    • Disaster Management
    • Community Development
    • Forest Management
  • Tentang
    • Visi dan Misi
    • Profil
    • Staff
  • Kabar Imun
    • Galeri
    • Siaran Pers
  • Pengalaman Organisasi
Tiada hasil
Lihat semua
Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah
  • Beranda
  • Kegiatan
    • Disaster Management
    • Community Development
    • Forest Management
  • Tentang
    • Visi dan Misi
    • Profil
    • Staff
  • Kabar Imun
    • Galeri
    • Siaran Pers
  • Pengalaman Organisasi
Tiada hasil
Lihat semua
Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah
Tiada hasil
Lihat semua

Warga Pakuli Utara Menjaga Maleo: Dari Kepedulian Menjadi Gerakan Konservasi

Admin Imunitas Oleh Admin Imunitas
9 Agustus 2026
pada Community Development, Forest Management, Kegiatan, Uncategorized
0

Di tengah lanskap Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, keberadaan Maleo (Macrocephalon maleo) bukan sekadar cerita tentang satwa endemik Sulawesi. Bagi sebagian warga, burung yang memiliki kebiasaan unik meletakkan telurnya di lokasi-lokasi tertentu itu adalah bagian dari bentang alam yang telah mereka kenal dan hidup berdampingan dengannya.

Namun, keberadaan Maleo tidak selalu aman. Habitat yang berubah dan berbagai tekanan terhadap lingkungan membuat keberlangsungan satwa endemik Sulawesi ini membutuhkan perhatian lebih dari berbagai pihak.

Di Pakuli Utara, perhatian itu mulai tumbuh menjadi gerakan melalui Lembaga Pengelola Konservasi Desa (LPKD) Singgani, sebuah wadah yang menempatkan warga desa sebagai pelaku utama dalam menjaga habitat Maleo.

Melalui LPKD Singgani, masyarakat tidak hanya berbicara tentang pentingnya Maleo, tetapi mulai mengambil peran secara langsung. Patroli kawasan, pemantauan habitat, perlindungan lokasi peneluran, hingga penguatan kelembagaan menjadi bagian dari upaya yang dilakukan di tingkat desa.

Ketua LPKD Singgani, Ringgi, mengatakan perubahan paling penting justru terjadi ketika masyarakat mulai melihat Maleo bukan semata sebagai satwa liar, melainkan sebagai bagian dari kekayaan alam yang harus dipertahankan.

“Masyarakat Desa Pakuli Utara tidak lagi menjadi penonton pasif saat lingkungan dan satwa langka kita terancam. Lewat wadah LPKD Singgani dan dukungan program Nature’s Heartbeat, kami mengambil tanggung jawab untuk ikut menjaga kawasan dan habitat Maleo.”

Ucap Ringgi.

Bagi masyarakat, konservasi pada akhirnya bukan hanya soal menjaga seekor burung. Ia berkaitan dengan menjaga ruang hidup, bentang alam, dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Konservasi yang Berangkat dari Desa

Gerakan di Pakuli Utara merupakan bagian dari upaya memperkuat konservasi berbasis masyarakat melalui program Nature’s Heartbeat. Program ini mempertemukan masyarakat desa dengan sejumlah organisasi yang memiliki perhatian pada pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam berkelanjutan.

Dalam proses tersebut, International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Non-Timber Forest Products–Exchange Programme (NTFP-EP) memberikan dukungan melalui skema hibah konservasi. Sementara itu, Perkumpulan IMUNITAS Sulawesi Tengah mengambil peran dalam pendampingan teknis dan penguatan kapasitas masyarakat.

Peran tersebut penting karena konservasi di tingkat tapak tidak cukup hanya dengan menghadirkan program. Masyarakat membutuhkan pengetahuan, kelembagaan, kemampuan mengelola kegiatan, serta ruang untuk menentukan sendiri bentuk pengelolaan yang sesuai dengan kondisi desanya.

Bagi IMUNITAS, pendekatan semacam ini sejalan dengan kerja organisasi yang sejak berdiri berfokus pada pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kapasitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam konteks Pakuli Utara, pendampingan tersebut diarahkan agar masyarakat tidak berhenti pada kegiatan konservasi sesaat, tetapi mampu membangun sistem pengelolaan yang dapat terus berjalan di tingkat desa.

Dengan demikian, LPKD Singgani tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat semata. Lembaga ini justru didorong menjadi aktor lokal yang memiliki pengetahuan, kapasitas, dan tanggung jawab dalam menjaga Maleo dan habitatnya.

Menjaga Maleo, Menjaga Lanskap

Maleo memiliki karakteristik yang membuat perlindungan habitat penelurannya menjadi sangat penting. Satwa endemik Sulawesi ini bergantung pada lokasi tertentu untuk berkembang biak. Karena itu, hilangnya atau terganggunya habitat dapat berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan populasinya.

Di sinilah masyarakat yang tinggal paling dekat dengan habitat memiliki posisi strategis.

Mereka adalah pihak yang setiap hari berinteraksi dengan lanskap, mengetahui perubahan yang terjadi di sekitarnya, sekaligus dapat menjadi mata dan telinga pertama ketika muncul ancaman terhadap kawasan.

Melalui LPKD Singgani, pengetahuan tersebut mulai diorganisasi menjadi tindakan. Patroli dan pemantauan bukan hanya menjadi kegiatan teknis, tetapi juga bagian dari proses membangun kesadaran bersama bahwa perlindungan Maleo merupakan tanggung jawab kolektif.

Ringgi menilai dukungan berbagai pihak menjadi dorongan penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola konservasi.

Namun, keberhasilan gerakan ini pada akhirnya akan ditentukan oleh seberapa kuat masyarakat dapat mempertahankan peran tersebut dalam jangka panjang.

Sebab, konservasi yang berkelanjutan tidak lahir hanya dari satu kegiatan, satu program, atau satu periode pendampingan. Ia tumbuh dari kelembagaan lokal yang kuat dan kesediaan masyarakat untuk terus menjaga lingkungan tempat mereka hidup.

Pakuli Utara sedang menunjukkan proses itu. Dari sebuah desa, muncul kesadaran bahwa menjaga Maleo berarti menjaga lebih dari sekadar satu jenis burung. Ada habitat yang harus dipertahankan, ada lanskap yang perlu dirawat, dan ada pengetahuan masyarakat yang harus terus hidup.

Ketika warga menjadi pelaku utama, konservasi tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang datang dari luar. Ia tumbuh dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan perlahan menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Di tengah berbagai tekanan terhadap alam Sulawesi, gerakan kecil di Pakuli Utara menjadi pengingat bahwa masa depan satwa endemik juga bergantung pada mereka yang hidup paling dekat dengan habitatnya.

Label: Kab. SigikonservasiMaleoNTFP-EP Indonesia
Admin Imunitas

Admin Imunitas

Terkait Berita

Menyadap Nira, Merawat Hutan
Forest Management

Menyadap Nira, Merawat Hutan

13 Juli 2026
Nature Heartbeat: Menjaga Detak Jantung Alam dari Lembah Besoa
Community Development

Nature Heartbeat: Menjaga Detak Jantung Alam dari Lembah Besoa

10 Juli 2026
Upaya Perlindungan Habitat Maleo Terus Dilakukan
Community Development

Upaya Perlindungan Habitat Maleo Terus Dilakukan

14 Juni 2026
Modal Badan Usaha Milik Desa Bisa dari Dana Desa
Community Development

Modal Badan Usaha Milik Desa Bisa dari Dana Desa

26 Februari 2025
Festival Kulawi, Promosikan Kearifan Lokal Lanskap Lariang
Kegiatan

Festival Kulawi, Promosikan Kearifan Lokal Lanskap Lariang

26 November 2024
IMUNITAS Fasilitasi Pelatihan Fasilitator EARR Central Sulawesi
Kegiatan

IMUNITAS Fasilitasi Pelatihan Fasilitator EARR Central Sulawesi

17 Juli 2024
Muat lagi

Diskusi tentang post

By Categories

  • Agenda
  • Community Development
  • Disaster Management
  • Forest Management
  • Galeri
  • Kegiatan
  • Opini
  • Pengalaman
  • Publikasi
  • Siaran Pers
  • Uncategorized

TENTANG

Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah

Ikuti Media Sosial Imunitas

Jl. Tanggul Selatan, Lorong Idaman No 2, Kelurahan Petobo, Kecamatan  Palu Selatan

Kota Palu-94232- Sulawesi Tengah

Email :

imunitas2012@gmail.com

  • About
  • Help
  • Feedback
  • Contact

© 2021 IMUNITAS - Perkumpulan Inovasi Komunitas Sulawesi Tengah

Tiada hasil
Lihat semua
  • Beranda
  • Kegiatan
    • Disaster Management
    • Community Development
    • Forest Management
  • Tentang
    • Visi dan Misi
    • Profil
    • Staff
  • Kabar Imun
    • Galeri
    • Siaran Pers
  • Pengalaman Organisasi
  • Masuk

© 2021 IMUNITAS - Perkumpulan Inovasi Komunitas Sulawesi Tengah

Selamat datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Lupa kata sandi?

Buat Akun baru!

Isi form untuk mendaftar...

Semua bidang yang wajib. Masuk

Ambil kata sandi Anda

Masukkan nama atau email untuk mereset kata sandi Anda.

Masuk